Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat akan mengundang beberapa organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama untuk membahas Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan.
Pembahasan Perppu Ormas itu akan dilakukan sebelum masa sidang pertama DPR RI periode 2017/2018 berakhir 28 Oktober mendatang.
"Makanya ini kami jadwalkan, menyusun jadwal, perkiraan saya setelah minggu depan (rapatnya)," kata Ketua Komisi II DPR RI Zainudin Amali, Kamis (7/9). Zainudin berkata, pihaknya akan mengundang Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Hukum dan HAM untuk meminta penjelasan soal penerbitan Perppu Ormas.Saat ini Komisi II sedang menyusun jadwal dan mekanisme pembahasan Perppu Ormas. Selain melibatkan NU dan Muhammadiyah, pembahasan Perppu akan melibatkan pemerintah dan fraksi di DPR serta pihak terkait.
DPR telah menerima naskah Perppu Ormas dari Pemerintah sejak pekan lalu. Nantinya, parlemen berhak menerima atau menolak Perppu dalam rapat paripurna yang digelar pada akhir masa sidang.
Rapat pembahasan Perppu Ormas akan dilakukan untuk menguatkan posisi masing-masing fraksi dalam memandang produk hukum tersebut. Di sisi lain, Zainudin belum memastikan apakah DPR akan turut mengundang ormas Front Pembela Islam atau tidak pada pembahasan nanti.
"Nanti kita lihat perkembangannya seperti apa, kita kan ada limitasi waktu harus selesai masa sidang ini 27 oktober," ujarnya.
Agama adalah hak setiap orang untuk memeluknya dan merupakan sebuah kebebasan dalam memeluk agamanya masing-masing karena pemeluk agama di jamin dan dilindungi oleh Undang-undang dasar 1945 Pasal 29 ayat 2 berbunyi: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu.
Tapi anehnya negeri ini, mahasiswa yang bisa disebut garda bangsa, malah menjual bangsa ini dengan paham khilafah yang bukan merupakan ideologi bangsa Indonesia. Terlalu murah nilai kemerdekaan bangsa ini dimata mereka, 350 tahun indonesia di jajah belanda, 3,5tahun dijajah oleh jepang, dengan pertumpahan darah kita bisa merdeka, tapi dengan seenaknya saja mereka ingin menggantikan pancasila sebagai dasar negara dan menghina darah pahlawan yang telah tumpah demi kemerdekaan kita. Paham radikalisme memang sudah mewabah sampai ke sekolah-sekolah baik dari TK sampai dengan perguruan tinggi. Anak-anak kecil sudah terkontaminasi dengan paham radikal ini, mereka diajari untuk membunuh orang yang bukan seiman dengan mereka. Hanya karena perbedaan keyakinan mereka membenarkan membunuh, menganiayaya bahkan ajakan membenci orang lain. Dalam agama manapun tidak ada diajarkan untuk membenci sesama manusia. Sekarang ratusan ribu bahkan jutaan generasi muda telah tercemar oleh paham kelompok garis keras ini yang mengatasnamakan agama islam untuk kepentingan politik dan syahwat mereka. Dampak dari ideolagi mereka ini sehingga membuat kegaduhan dimana-mana. Mereka memeras orang lain, orang miskin maupun orang kaya untuk memenuhi perut mereka, mereka menganggap hal tersebut halal dan di ridhoi oleh Allah tapi sebenarnya tidak. Makar, merupakan gaya hidup mereka, mereka ingin merebut pemerintahan tanpa dengan pemilu bahkan mereka menjegal orang yang berbeda keyakinan dengan mereka untuk maju secara sah menjadi pemimpin di negeri ini. Aksi demo, politik mayat, baiat dengan golok bahkan dengan cara murahanpun mereka lakukan asalkan mereka bisa menang dan bisa memimpin negeri ini.
Seberapa besar bayaran mereka sehingga mereka begitu murah untuk menggadaikan pancasila?
Kebhinekaan hanyalah semboyan dan retorika belaka bagi mereka, khilafah adalah tujuan utama.
Jadi jangan heran jika beberapa tahun mendatang Kalimantan, Aceh, Papua dan daerah-daerah lain mulai melepaskan diri dari NKRI ini, itu tandanya burung Garuda sudah lelah untuk menaungi kita semua dan berkibarlah bendera kemerdekaan daerah masing-masing.
Saat ini belum terlambat saudaraku, masih ada waktu yaitu merangkul saudara-saudaramu, sahabatmu dan juga orang-orang yang kamu kenal dan katakan kepada mereka, "Betapa mahalanya kemerdekaan bangsa ini, mari kita jaga dengan menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa dan persatuan Indonesia".
Berita ini kami muat untuk menambah wawasan anda dan agak sedikit panjang penjelasanya, jika anda tidak punya waktu lebih dari 10 menit lebih baik anda tunda untuk membacanya. Tapi jika anda peduli pentingnya wawasan dan pengetahuan tentang dan peranan ISIS untuk menghancurkan NKRI dan generasi muda jatuh dalam paham para radikalis, kami merekomendasikan anda membaca pelan-pelan dan menyimak kata demi kata dalam tulisan ini.
ISIS didirikan pada tahun 1999 oleh Abu Musab al-Zarqawi yang berasal dari Yordania dan termasuk orang yang paling dicari di irak dan yordania karena sering terlibat dalam serangkaian serangan terhadap tentara dan kepolisian, termasuk warga sipil. Zarqawi tewas terbunuh dalam operasi serangan udara militer Amerika Serikat pada tanggal 7 juni 2006 di Ba'qubah, Irak. berikut sejarah ISIS: 1. Kelompok ini didirikan tahun 1999 oleh seorang radikal Yordania, Abu Musab al-Zarqawi, dengan nama Jamāʻat al-Tawḥīd wa-al-Jihād, "Organisasi Tauhid dan Jihad". 2. Bulan Oktober 2004, al-Zarqawi berbaiat kepada Osama bin Laden dan mengganti nama kelompoknya menjadi Tanẓīm Qāʻidat al-Jihād fī Bilād al-Rāfidayn, "Organisasi Pangkalan Jihad di Mesopotamia", lebih dikenal dengan nama al-Qaeda di Irak (AQI).Meski mereka tidak pernah menyebut dirinya al-Qaeda di Irak, nama ini menjadi nama non-resminya selama beberapa tahun. 3. Bulan Januari 2006, AQI bergabung dengan sejumlah kelompok pemberontak Irak dan membentuk Dewan Syura Mujahidin.Al-Zarqawi tewas pada bulan Juni 2006. 3. Tanggal 12 Oktober 2006, Dewan Syura Mujahidin bergabung dengan beberapa faksi pemberontak. Keesokan harinya, mereka mengumumkan pembentukan ad-Dawlah al-ʻIraq al-Islāmiyah, juga dikenal dengan nama Negara Islam Irak (NII). Pemimpin kelompok ini adalah Abu Abdullah al-Rashid al-Baghdadi dan Abu Ayyub al-Masri.Setelah keduanya tewas dalam operasi gabungan Amerika Serikat dan Irak bulan April 2010, Abu Bakr al-Baghdadidiangkat sebagai pemimpin baru kelompok tersebut. 4. Tanggal 8 April 2013, setelah memperluas wilayahnya ke Suriah, kelompok ini mulai menggunakan nama Negara Islam Irak dan al-Syam atau Negara Islam Irak dan Suriah.Kedua nama tersebut merupakan terjemahan dari bahasa Arab ad-Dawlah al-Islāmīyah fī-l-ʻIrāq wa-sy-Syām; al-Syām berarti kawasan Syam atau Suriah Raya. Nama terjemahan tersebut biasa disingkat ISIL atau ISIS dalam bahasa Inggris, namun tidak pernah tetap. The Washington Post menyimpulkan bahwa perbedaan antara kedua singkatan tersebut "tidak terlalu besar". 5. Nama Da'isy sering dipakai oleh para penentang NIIS yang berbahasa Arab. Nama ini terdiri dari huruf Dāl, alif, ʻayn, dan syīn sehingga membentuk kata (داعش), singkatanal-Dawlah al-Islamīyah fī al-ʻIrāq wa-al-Syām dalam bahasa Arab. Ejaan singkatan tersebut beragam, dan "Daesh" lebih lazim digunakan. NIIS menganggap singkatan Da'isy sangat merendahkan karena dengan konjugasi tata bahasa yang tepat, kata tersebut terdengar seperti Daes yang berarti "seseorang yang menginjak sesuatu", dan Dahes, "seseorang yang menebar kebencian". ISIL kabarnya memberi ancaman cambuk dan potong lidah kepada orang-orang yang memakai istilah Da'isy di wilayahnya. Pada tahun 2015, lebih dari 120 anggota parlemen Britania meminta BBC memakai nama Daesh seperti John Kerry dan Laurent Fabius. 1. Tanggal 14 Mei 2014, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memutuskan untuk menggunakan nama Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) untuk menyebut kelompok ini. Pada akhir 2014, para petinggi pemerintahan A.S. beralih ke Daesh karena nama tersebut lebih disukai sekutu-sekutunya di Arab. 2. Tanggal 29 Juni 2014, kelompok ini mengganti namanya menjadi ad-Dawlah al-Islāmiyah (الدولة الإسلامية, Negara Islam (NI)) dan menyatakan dirinya sebagai kekhalifahandunia."Irak dan Syam" dihapus dari semua dokumen dan komunikasi resmi. Sejak saat itu, nama resmi kelompok ini adalah Negara Islam. Nama Negara Islam dan klaim kekhalifahan dikritik habis-habisan. PBB, beberapa negara, dan sejumlah kelompok Muslim besar menolak nama baru tersebut. 3. Pada awal didirikannya adalah saat terjadi pemberontakan Irak lewat bom bunuh diri di mesjid islam syi'ah, warga sipil dan badan pemerintahan Irak dan termasuk tentara Italia yang tergabung dalam Multi-National Force yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Oke itu sejarah dan nama-nama ISIS sebelum menjadi ISIS. berikut kami akan mengajak anda berpikir keluar dan membuka wawasan anda tentang mengapa ISIS ini dibentuk. Tolong membaca dengan sabar, dibutuhkan otak yang waras yang telah di upgrade di komunitas bumi datar.
OKe, tujuan pembentukan ISIS ini yakni untuk menghubungkan para ektrimis Islam garis keras diseluruh dunia supaya mereka dapat terorganisir dengan baik dan terkontrol agar tidak melakukan kejahatan yang diluar kaedah Islam dan dapat di manfaatkan oleh Amerika sebagai "Anjing penyerang" musuh Amerika, Jadi jangan heran dalam bunker senjata ISIS banyak membuktikan bahwa persenjataan ISIS disuplay oleh Amerika. Seiring berjalannya waktu, mereka ini mulai melakukan pemberontakan terhadap pemerintah dan mulai menyerukan dakwah Islam yang melenceng daripada Islam yang sebenarnya bahkan menyerang Amerika yaitu negara yang telah menciptakannya.
Banyak selentingan yang menyebut bahwa sesungguhnya gerakan radikal Al Qaeda dan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) atau dikenal pula sebagai Islamic State of Iraq and The Levant (ISIL), merupakan "boneka" ciptaan Amerika.
Salah seorang penudingnya adalah mantan staf National Security Agency (NSA) atau Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat, Edward Snowden. Menurut dia, selain Amerika, dua negara lain yang bertanggungjawab terkait ISIS adalah Inggris dan Israel.
Pernyataan Snowden, yang telah membongkar banyak "rahasia dunia" menyangkut isu politik, ekonomi, dan keamanan tingkat tinggi, sedikit banyak menggoyahkan keyakinan pihak-pihak yang selama ini "meyakini betul" bahwa ISIS adalah gerakan yang berkait paut erat dengan agama.
Begitu pun kegoyahan tak lantas benar-benar membuat keyakinan tersebut ambruk. Asumsinya, bisa saja Snowden berkata bohong.
Namun satu video yang dilansir Fox News menjelaskan bahwa apa yang dikemukakan Snowden memang bukan sekadar pepesan kosong.
Dalam video wawancara dengan reporter Fox News, Greta Van Susteren, Hillary Clinton menyebut bahwa Amerika memiliki kepentingan sangat besar di Asia Tengah, kawasan yang dua dekade lalu hendak "dikuasai" Uni Soviet.
"When the Soviet Union invaded Afghanistan we had this brilliant idea we were going to come to Pakistan and create a force of mujahedeen and equip them with stinger missiles and everything else to go after the Soviets inside Afghanistan."
Nama Lain Al-Baghdadi adalah Simon Eliot
Rencana besar ini sukses. Uni Soviet meninggalkan Afghanistan dengan kerugian sangat besar, yang di belakang hari menjadi salah satu faktor yang membuat negeri ini bangkrut dan akhirnya runtuh.
Tapi menurut Clinton, yang tidak diperkirakan benar oleh Pemerintah Amerika Serikat yang saat itu dipimpin Presiden Ronald Reagen, adalah betapa mereka ternyata menciptakan monster-monster. Yakni pasukan terlatih dengan tingkat kefanatikan yang sangat tinggi. Tidak hanya di Afghanistan, tapi juga di Pakistan, Irak, dan Suriah.
"We were just so happy to see the Soviet Union fall and we thought fine we are oke. Now you look back. The people we are fighting today, we were supporting in the fight the soviets," ujar Clinton. Mereka yang kita perangi hari ini adalah pihak yang kita dukung saat melawan Uni Soviet.
Selain dalam wawancara dengan Fox, Hillary Clinton yang saat itu menjabat Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, pernah menyampaikan pernyataan serupa di hadapan rapat pemerintah dengan senat Amerika Serikat.
Rapat tersebut, tepatnya bagian di mana Hillary menyebut soal hubungan Amerika Serikat dengan Afghanistan, Taliban, Muhajidin, ISIS, dan gerakan radikal lain, kemudian disiarkan diCNN.
Jumat, 13 November 2015 waktu Paris, Perancis, atau Sabtu, 14 November 2015 waktu Indonesia, teror melanda kota yang dikenal sebagai simbolisme romantik ini. Tiga bom meledak di sekitar Stade de France yang tengah memanggungkan laga sepakbola internasional, dan sekelompok orang bersenjata api memberondongkan peluru ke kerumunan warga yang sedang menonton konser musik. Tembakan lain juga menghantam orang-orang yang tengah makan dan minum di restoran.
ISIS menyatakan bertanggung jawab atas peristiwa yang menewaskan kurang lebih 180 orang ini. Mereka menyampaikannya lewat pesan elektronik di media sosial dan dilansir pula di sejumlah media massa. Di tempat kejadian perkara, konon, petugas Kepolisian Perancis, menemukan identitas para pelaku.
Dalam perkembangannya kemudian, pihak Pemerintah Perancis menyerukan perang terhadap ISIS. Perancis telah melancarkan serangan udara penuh di lokasi-lokasi yang diyakini merupakan markas ISIS.
Teror dibalas teror. Sementara penciptanya, Amerika Serikat, cuma bisa bilang prihatin.
Mereka telah memelihara seekor singa kecil yang dulu imut sekarang menjadi seekor singa jantan yang siap merenggut nyawa mereka sendiri.
Sekarang ISIS telah masuk ke beberapa negara dan mendeklarasikan organisasi mereka dari terang-terangan hingga main sembunyi-sembunyi. Di Indonesia salah satu negara yang menjadi target ISIS mengingat negara Indonesia mayoritas Islam yang bisa mereka pengaruhi dengan paham radikal mereka. Masuknya mereka ke Indonesia tidak serta merta dengan persenjataan yang lengkap seperti yang terjadi disuriah, tapi mereka melakukan dakwah dan masuk dalam organisasi masyarakat anti Nasionalisme dan Pancasila seperti FPI, FUI dan HTI dan juga beberapa ormas Islam lainnya yang menganut paham radikal.
keterlibatan Ormas ini dengan ISIS diyakini atas dasar paham yang sama, mereka bertujuan untuk menguasai negara yang mayoritas Islam agar kekuatan mereka bertambah dan menjadi keuntungan besar bagi mereka dalam segala hal menyangkut finansial dan persenjataan.
Habib Rizieq Shihab selaku pimpinan FPI pernah mengatakan bahwa ISIS adalah saudara mereka dan siap untuk membela ISIS, ini sebuah kode nyata yang ia beritahukan kepada pengikut-pengikutnya bahwa mendukung ISIS dalam penyebaran agama Islam itu adalah kewajiban FPI juga, katanya dalam ceramahnya yang beredar di youtube.
TUJUAN ISIS DI INDONESIA Tujuan ISIS masuk Indonesia adalah untuk mengubah ideologi pancasila, dengan mereka menyublim dalam ormas-ormas ini, mereka berupaya untuk berhasil merenggut negara kita yang menganut ideologi Pancasila, Nasionalisme dan Kebhinekaan, jadi tidak heran Jika Rizieq ini sering ceramah yang menebar "kebencian", karena hubungan Rizieq dengan pemimpin ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi merupakan hubungan terselubung yang saat ini masih sedang kami bongkar tapi tim kami mendapat sinyal hubungan mereka dengan ISIS terbukti dari pengiriman dana dan bantuan melalui Bachtiar Nazir.
Taktik mereka merebut pemerintahan yaitu melalui DPR dan MPR. Dari tindakan makar yang sempat mereka rencanakan untuk "Menguasai gedung DPR & MPR". Fadil Zon merupakan Pioner utama dalam rencana ini, ia mengatur strategi bersama Rizieq Shihab digedung DPR ketika kunjungan Rizieq ke gedung DPR beberapa bulan lalu.
Keterlibatan Harry Tanoe dalam upaya merebut lahan bisnis dan juga pembiayaan Kudeta terhadap Pemerintah di indonesia dibekingi kuat oleh Trump Presiden Amerika Serikat saat ini merupakan partner bisnis Tanoe di bidang Property. Kami pernah membahas keterlibatan mereka ini sebelum berita yang di rilis oleh wartawan Investigasi Allan Nairn tanggal 19 April lalu beredar, dengan cara memenangkan Anies-Sandi.
Tonton video pada menit ke 16
Kekuatan besar ini mereka manfaatkan dari massa yang dimiliki Rizieq untuk menyerukan penjarakan Ahok padahal tujuan utama mereka adalah membuat kegaduhan besar di Indonesia dengan kata lain kudeta terhadap Presiden Jokowi.
Dalam kampanye Donald Trump sebelum ia terpilih menjadi Presiden, Ia melarang Islam masuk Amerika. Ini kampanye rasis dan berbahaya sepanjang sejarah Amerika, tapi kita tidak sadar bahwa kampanye tersebut bermuatan pesan khusus terhadap Pemimpin ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi agar segera bergabung dengan mereka dan kembali menjadi "anjing amerika". Jika sudah demikian, dengan mudah Amerika menundukan negara-negara yang tidak taat pada Amerika yakni Rusia, Korea Utara dan salah satunya Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Persenjataan akan dikirimkan oleh Amerika kepada pasukan ISIS yang berada disetiap negara khususnya Indonesia akan membantu gerakan ini untuk melucuti Pancasila, nasionalisme dan kebhinekaan. Kapal perang Amerika USS Freedom yang merapat ke wilayah Asia tenggara adalah sinyal dukungan terhadap kelompok radikal ini. Alasannya adalah Amerika membuktikan janjinya yakni mempertahankan jalur perdagangan laut yang penting bagi perdagangan global dan ekonomi AS hanyalah syarat belaka. Lampu hijau Amerika kepada pemimpin ekstrimis ini dengan merapatnya kapal perang yang membawa persenjataan masuk indonesia.
Indonesia saat menjadi ladang basah bagi keserakahan Amerika yang dipimpin oleh Trump saat ini, Harry Tanoe yang merupakan partner bisnisnya merasa bersyukur dan berusaha melakukan sekuat tenaga mendanai gerakan FPI, FUI dan HTI melalui orang-orang kepercayaan mereka. Saat ini, mereka yang barisan sakit hati bersinergi untuk menjegal pemerintahan Jokowi bahkan musuh dalam selimutpun ada dalam pemerintahan Jokowi. Ini daftar orang-orang yang berada dibalik rencana jahat di Indonesia. 1. Fadli Zon 2. Harry Tanoe 3. Prabowo 4. Anies 5. Sumarno KPU 6. Tommy Soeharto 7. SBY 8. Habib Rizieq 9. Usama Hisyam 10. Al-Khatathtath 11. Kivlan 12. Munarman 13. Amien Rais 14. Jusuf Kalla
Pesan pemimpin Ekstrimis ini melalui Zakir Naik buronan interpol india, memberikan pesan yang tersirat kepada kelompok ini yang telah bergabung dengan FPI, FUI dan HTI. Kedatangan Zakir disambut hangat oleh ketua MPR beberapa waktu lalu dan pertemuannya dengan Jusuf Kalla membuka tabir investigasi kami selama ini dan diperkuat atas meradangnya Jussuf Kalla terhadap media asing yang mengatakan kemenangan Anies-Sandi merupakan dukungan Islam radikal atau garis keras.
Ancaman terhadap Pemerintahan Presiden Jokowi sangatlah besar, jika militer Indonesia berada dibawah komando yang salah. Informasi yang beredar tentang keterlibatan panglima aktif seperti Gatot, masih kami telusuri karena sampai saat ini masih belum kami dapatkan titik terang tentang keterlibatan dia dalam berita investigasi Allan Nairn. Demikian hasil investigasi Tim Intelijen Markibong Salam waras 2017 Bersambung...
Berseliweran kalimat, "Biarkan bangsa ini tenang". Kalimat ini di dengungkan oleh pendukung Anies-Sandi ketika mengetahui jagoan mereka menang dalam hitungan cepat pilkada DKI 19 April lalu. Masyarakat sudah pasti tau bahwa Ahok tidak akan mereka biarkan memimpin Jakarta 5 tahun lagi karena kesempatan mereka untuk "bermain mata" hampir tidak ada jika Ahok masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta 2017-2022. Bagaimana bangsa ini bisa tenang sementara mereka sendiri yang "membakar". Dugaan penistaan agama hanya sebagai alasan mereka saja untuk memulai kegaduhan dengan mengancam akan menurunkan massa berlaksa-laksa, menurunkan Jokowi dan penjarakan Ahok. Permintaan maaf Ahok tidak digubris oleh para "Ulama-ulama jalanan ini", mereka bak drakula haus akan darah Ahok, tak perduli siang ataupun malam mereka dengungkan penjarakan Ahok dan hukum "si penista agama" seberat-beratnya.
Gila hormat, itulah predikat mereka. Mereka berteriak bela ulama ketika mereka sendiri tersandung kasus hukum, mereka menganggap bahwa didunia ini mereka sendirilah yang benar. Tapi anehnya, pengikut mereka kalangan cetek otak selalu saja mengagungkan mereka seolah mereka ini adalah malaikat yang jatuh dari plapon rumah yang selalu benar dan tidak pernah salah, bahkan parahnya lagi mereka dianggap orang yang suci tanpa dosa oleh pengikut mereka.
Lucu memang negeri ini, orang baik seperti Ahok dianggap ancaman oleh sejumlah masyarakat yang tidak sadar akan kebaikan Ahok. Ia dianggap sampah, dianggap biang rusuh tapi mereka lupa kalau kesejahteraan mereka selama ini tidak terlepas dari tangan dingin Ahok dan "mulut sampahnya" itu. Waktu tidak bisa diulang lagi saudaraku, anda semua tau bahwa ketika Anies-Sandi menang semua elemen masyarakat menjadi tenang dan mereka bersorak atas kemenangan Anies-Sandi, "Allahu'akbar, si penista agama dan penghina ulama, kalah!!!" seru mereka disetiap sudut kota. Mereka menggemakan kemenangan mereka seolah mereka telah mengalahkan seorang raksasa padahal Ahok hanyalah sendirian. 7 juta umat mereka klaim sebagai dukungan umat islam seindonesia kenyataannya banyak umat islam yang tidak ingin nama mereka dibawa-bawa.
Sekarang bangsa ini telah tenang semenjak Ahok kalah, mereka tidak menurunkan massa lagi, tapi ternyata ketika Ahok dituntut jaksa 1 tahun penjara dan tidak ditahan, ulama cetek ini mulai gerah kembali dan ingin menurunkan massa untuk mengepung persidangan Ahok , mengapa tidak, mereka berharap bahwa Ahok ini benar-benar lengser dari jabatan gubernurnya dan tidak lagi turun kerja ke balaikota melainkan masuk penjara.
Penyakit hati dan kebencian ini tercermin dari sikap seorang yang katanya diberi gelar Habaib atau orang terkemuka dalam agama islam, justru menunjukan sikap yang tidak pantas seorang habaib. Ia menyimpan dendam dan sakit hati terhadap Ahok, satu-satunya obat yang bisa membuat mereka ini tenang atau sembuh adalah "Ahok dipenjara". Mereka menuduh rezim Jokowi ini rezim PKI padahal kalau kita melihat kebelakang justru mereka yang terlihat seperti segerombolan PKI. Anarkisme, anti Nasionalisme dan pancasila sampai Rasialisme menjadi senjata utama mereka. Apakah itu bukan PKI?.
Siapa yang makar? apakah bukan dari golongan mereka yang ditangkap terkait kasus makar atau pemufakatan jahat ingin menggulingkan pemerintah?. Ah, mereka lupa kalau mereka ini sedang menggali lubang bagi mereka sendiri dan mengubur diri mereka sendiri. Setiap tindakan mereka melawan hukum dan merekapun dihukum. Akhirnya, ormas mereka dibubarkan oleh pemerintah karena tidak ada faedahnya bagi banyak orang kata Sandiaga Uno. Sekarang bangsa ini tenang, karena Ahok akan naik tingkat dan jauh lebih berpengaruh daripada menjadi Gubernur DKI, siap-siap saja semua preman ini dipaksa Jokowi dan Ahok untuk bertekuk lutut dibawah burung Garuda pancasila dan menghormati sang saka merah putih bukan kepada ideologi khilafah.
Akhir kata dari penulis Markibong, jadilah waras pada saat situasi menjadi gila janganlah kewarasan anda menjadi kegilaan yang sebenarnya.
Tinggalkan komentar anda pada kolom komentar dibawah ini dan mari kita jaga NKRI dan saling menjaga satu sama lain. Salam waras 2017.
Penerimaan terhadap perbedaan telah menjalin negara ini. Konsep minoritas-mayoritas bukan untuk dihilangkan, melainkan untuk diterima sebagai kenyataan. Di Tanah Sahabat, dua guru muda ini tak hanya mengajar, namun juga belajar soal penerimaan terhadap liyan.
Kamis, 30 Maret 2017, detikcom menempuh perjalanan sekitar 40 km dari Fulan Fehan ke ibu kota Kabupaten Belu, Atambua. Dari pinggir jalan, anak-anak sekolah menyapa kami, lengkap dengan senyum ramah.
Sesekali mereka tampak hilir mudik di jalan-jalan desa sampai di jalan besar perbatasan negara. Kadang yang menyapa adalah anak-anak kecil berseragam merah putih, ada pula yang berseragam putih abu-abu. "Selamat pagi," kata mereka kepada kami enam orang dari Jakarta.
Barangkali ini potret keramahan Belu. Kabupaten ini terletak di Nusa Tenggara Timur, yang berbatasan dengan Timor Leste. Secara bahasa, 'belu' dalam bahasa Tetun berarti 'sahabat'. Tanah ini didiami oleh empat suku utama, yakni Tetun, Bunak, Dawan, dan Kemak.
Foto: Danu Damarjati/detikcom
Di tengah perjalanan, di Lahurus, Kecamatan Lasiolat, kami bertemu dengan dua pemuda bukan dari Tetun, Bunak, Dawan, atau Kemak, melainkan Jawa. Mereka berada di tempat yang jauh dari kampung halamannya untuk mengajar. Mereka adalah guru di kawasan tapal batas ini.
Gilang Rickat Trengginas, yang berbaju biru, adalah sarjana Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berumur 23 tahun. Di sebelahnya ada Dhani Kurniawan, yang berbaju putih, sarjana Pendidikan Sejarah UNY berumur 25 tahun.
Mereka adalah guru dari Sarjana Mendidik di Daerah Terluar (SM3T), program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mereka dan puluhan kawannya ada di berbagai pelosok yang terpisah-pisah di Indonesia untuk mengajar selama setahun.
"Selain ingin mencari pengalaman di daerah perbatasan, saya ingin melihat bagaimana kondisi pendidikan di perbatasan," kata Gilang di pinggir jalan, tak jauh dari tempat mereka tinggal.
Siang itu sebagian siswa-siswi telah melangkah pulang dari SMA Mgr Gabriel Manek SVD di Lahurus, Desa Fatulotu, Kecamatan Lasiolat. Sama halnya Gilang dan Dhani juga sudah selesai mengajar di sekolah itu. Di luar sedang hujan, kami berbincang di halaman salah satu rumah warga.
Dhani, pemuda asal Madiun, Jawa Timur, mengaku lahir dan besar di lingkungan Jawa. Saat terjun menjadi guru di Belu, Dani menghadapi realitas yang sama sekali baru. Begitu pula Gilang yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah.
"Perbedaan di sini cukup banyak juga," kata Dhani.
Foto: Danu Damarjati/detikcom
Sekilas, penampilan mereka dengan warga setempat sudah berbeda, agama yang dianut Dhani dan Gilang juga berbeda dengan yang dianut warga setempat, bahasa daerah juga jelas-jelas berbeda.
"Untung ada bahasa Indonesia. Kalau tidak, ya kita mau omong apa," kata Dhani sambil tersenyum.
Gilang dan Dhani tinggal indekos di rumah tetua adat Nai Lasiolat setempat. Penerimaan warga setempat membuat mereka tenang. Bahkan Gilang menyatakan sudah merasa menjadi satu dengan masyarakat.
"Masyarakat menerima pendatang dengan baik. Saya kalau di sini seperti merasa tinggal di daerah sendiri. Lama-kelamaan logat kami ikut seperti orang sini juga," kata Gilang.
Sebagai seorang muslim dari Jawa, awalnya Dhani sering berpikir bagaimana mungkin dirinya menjadi minoritas di negara ini. Kini dia merasakan sendiri.
"Kami bisa merasakan jadi minoritas di sini," kata Dhani.
Sepanjang yang mereka tahu, hanya mereka berdua saja orang beragama Islam di Lasiolat. Mayoritas di sini beragama Nasrani. Bukan berarti minoritas adalah kaum yang tergencet. Malahan di tanah ini, Dani dan Gilang merasa diperlakukan dengan baik.
"Kami diizinkan untuk pergi beribadah ke Atambua setiap hari Jumat. Justru malah orang-orang sini kadang mengingatkan, 'Mas Gilang, bukannya ini hari Jumat? Silakan turun ke Atambua,'" tutur Gilang.
Pihak sekolah mengosongkan jadwal mengajar Gilang dan Dhani setiap hari Jumat, mengakomodasi kegiatan salat Jumat. Untuk salat Jumat, mereka meluncur ke masjid di Atambua, sekitar 30 km dari sini.
Kebetulan hujan sudah reda. Mereka kemudian mengajak kami melihat sekolah, jaraknya sekitar 300 meter dari tempat kami duduk-duduk. Sambil berjalan, Gilang bercerita bahwa dirinya juga menghormati adat istiadat warga setempat. Bentuk pamali dan kepercayaan di sini tak akan dilanggarnya. Bila hendak melangkah ke tempat yang baru, dia akan meminta izin terlebih dahulu. Dia mengambil contoh soal bukit di seberang jalan. Bukit menjulang itu sekilas tampak biasa saja, dengan pepohonan dan rumput-rumput menghijau.
"Misalnya bukit itu, kita tidak boleh sembarangan naik ke atas karena kepercayaan di sini kental sekali. Kami pun kalau mau melakukan sesuatu juga harus ngobrol dulu sama orang sini, menghormati adat-istiadat juga," kata Gilang.
Aktivitas di Sekolah
Akhirnya kami sampai juga di sekolah. Masih ada siswa-siswi kelas III SMA yang menjalani kegiatan belajar. Suster Carolla PRR, yang merupakan Wakil Kepala Kurikulum Sekolah, ada di lokasi.
Carolla menyapa Gilang dan Dhani dengan ramah. Dia merasa dua guru muda ini memang mudah beradaptasi dengan kondisi di sini.
"Mereka gampang menyesuaikan diri dengan keadaan yang seperti ini," tutur Carolla sambil menjinjing buku. Kata dia, Gilang dan Dani juga sesekali memimpin doa menurut Islam saat ada acara rapat atau pertemuan di sekolah, sebagaimana tradisi mereka yang juga sering bergantian dipimpin doa oleh orang beragama Katolik maupun Kristen. Bagi masyarakat sini, perbedaan adalah hal yang biasa saja, termasuk perbedaan agama dan budaya.
"Budaya itu tidak membuat kami saling jauh satu sama lain, tetapi sebenarnya memperkaya," kata Carolla.
Sekolah ini dilengkapi lapangan di tengahnya, cukup luas untuk memuat seratusan orang upacara bendera di sini. Lapangan ini sedang diuruk lumpur abu-abu basah yang luar biasa liat bila menempel di alas kaki, serupa dengan lumpur untuk membangun proyek jalan sabuk merah perbatasan di depan.
Suasana di dalam kelas berubah tenang saat Carolla memasuki kelas. Para siswi sudah siap menerima pelajaran. Belum ada siswa yang terlihat hadir di kelas.
Foto: Danu Damarjati/detikcom
Gilang dan Dani terlihat memeriksa hasil pekerjaan rumah murid-murid di sini, membantu Carolla barang sejenak saja.
Total siswa kelas III ada 54 orang, dan total murid di sekolah ini ada 143 orang. Pada dasarnya, murid-murid di sini mulai beraktivitas sejak pukul 07.00 Wita. Jam pelajaran berakhir pukul 12.45 Wita. Di luar itu, seperti murid kelas III ini, adalah jam tambahan.
Gilang mengajar mata pelajaran geografi untuk kelas I, dan pelajaran olahraga untuk kelas I, II, dan III SMA. Dhani mengajar sejarah untuk kelas I dan II serta pendidikan kewarganegaraan untuk kelas I SMA.
Sudah sejak tiga tahun lalu sekolah ini menerima guru dari program SM3T. Namun bukan berarti sudah tak ada tantangan lagi bagi Gilang dan Dhani mengajar di sini. Tantangan yang klasik di sini adalah soal fasilitas, bahkan fasilitas mendasar: buku.
"Soal fasilitas, tentu di sini berbeda dengan di Jawa. Buku cetak di sini agak sulit didapat. Saya mengajar sejarah tanpa buku cetak juga agak sulit," kata Dhani.
Ada pula karakter anak didik yang dirasa berbeda dengan anak-anak yang pernah ditemuinya di daerah asal. Gilang mengaku pernah disarankan oleh guru yang lebih berpengalaman agar lebih keras dalam mengajar murid-murid di sini, bahkan Gilang dipersilakan tak segan-segan untuk menggunakan tindakan fisik kepada murid supaya murid menuruti perintahnya. Namun ini tak dilakukannya.
"Di sini biasa memukul murid memakai rotan, meskipun tidak sampai mengakibatkan luka. Saya diberi tahu untuk menghadapi murid agar memakai rotan. Namun saya tidak pernah memakai rotan, karena tidak terbiasa," tutur Gilang tersenyum.
Foto: Danu Damarjati/detikcom
Gilang dan Dhani mengaku menerima gaji dari Kementerian Pendidikan senilai Rp 2,5 juta/bulan, atau Rp 3 juta/bulan, kadang-kadang Rp 2,8 juta/bulan. Memang nilai nominalnya mereka rasakan agak berubah-ubah seperti itu.
"Tanggal cairnya juga tidak jelas, kadang-kadang pertengahan bulan, kadang-kadang akhir bulan," tuturnya.
Ditambah lagi, pihak sekolah memberi uang Rp 150 ribu/bulan. Semua uang itu bisa digunakan untuk hidup di kawasan terdepan Indonesia ini.
"Itu cukup, layak hidup," kata Gilang.
Soal sinyal komunikasi, mereka sempat mengalami kesulitan saat datang ke sini pertama kali, yakni September 2016. Bila ingin menelpon, mereka harus meletakkan ponsel di luar atau bahkan naik di bukit terdekat untuk mendapatkan sinyal.
"Di situ ada BCL, Bukit Cinta Lahurus. Itu yang di atas tanjakan itu. Mereka biasa berkomunikasi dengan siapa saja di sana," kata Dhani.
Harus menunggu sejenak dulu sebelum ada SMS masuk menandakan ada sinyal telekomunikasi seluler yang bisa digunakan. Setelah itu, barulah mereka bisa bertelepon ria di bukit itu. Bahkan kadang-kadang mereka dapat roaming karena sinyal dari Timor Leste yang masuk. Namun sejak akhir 2016, dibangunlah satu menara BTS di sini. Kini mereka sudah bisa untuk sekadar mengirim e-mail atau pesan via WhatsApp.
"Bisa internet, semenjak ada tower baru di sini, tower Telkomsel," kata Gilang.
Di desa ini, mati lampu sering terjadi. Rata-rata mati lampu berlangsung selama enam jam. Meski harinya tak tentu, namun ada satu hari yang hampir pasti terjadi mati lampu. "Sabtu pasti mati," kata dia.
Secara umum, nasib mereka sebagai guru SM3T jauh lebih baik ketimbang kawan-kawannya yang disebar ke berbagai daerah yang lebih pelosok, jauh dari jalan utama. Dia menceritakan, kawannya ditempatkan di daerah yang jauh di gunung-gunung, tanpa sinyal selular, tak ada listrik, dilengkapi dengan akses jalan yang tak mudah.
"Ada satu teman saya, perempuan, tinggalnya di perpustakaan sekolah di Lamaknen Selatan, tanpa listrik. Medan yang harus ditempuh juga luar biasa. Kalau ke sana harus naik motor ekstra hati-hati melewati jalan setapak. Kami beruntung ditempatkan di sini," tutur Gilang.
Lebih dari itu, mereka juga merasa bersyukur bisa mendapat penerimaan yang baik dari warga setempat. Di Tanah Sahabat ini, Gilang dan Dhani menjadi saksi bahwa toleransi terhadap sang liyan bukan hanya slogan, tapi praksis.
Perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) tak boleh dijadikan hal yang tabu, dilarang dibicarakan, diselimuti misteri, dan dibiarkan gelap sehingga malah berbahaya. Justru Perbedaan SARA harus dijembatani dengan komunikasi-komunikasi yang mendewasakan dan meningkatkan saling pengertian. Perbedaan bukan untuk ditekan-tekan atau diseragamkan, namun perbedaan harus dirayakan sebagai suatu anugerah.
Seperti kata Suster Carolla tadi, "Budaya itu tidak membuat kami saling jauh satu sama lain, tapi sebenarnya memperkaya."
Temanku datang kerumah dengan wajah sedikit memerah ia berkata kepadaku, "Kamu tau gak, kita ini harus membela negara ini. Kita ini dijajah oleh orang Cina, mereka ada dimana-mana buka toko dimana-mana, mereka punya perusahaan dimana-mana". Tegasnya sambil menatap tajam kepadaku seolah melampiaskan kemarahannya, aku yang dari tadi bingung menatapnya sambil ku kerutkan dahi dan bertanya,"terus masalahnya dimana?" tambahku. "Masak kamu tidak tau sih, mereka itu sudah merajalela merampas hak kita" timpanya garang. Ku ambil air putih segelas untuknya sambil tersenyum aku bertanya lagi " terus yang diambil dari kita itu apa?" Dengan nada yang sedikit jengkel dia menjelaskan kepadaku " Kamu in percuma ya sekolah tinggi-tinggi bahkan sarjana hukum. Coba kamu perhatikan mereka berdagang disana semua orang belanja ditoko mereka dan mereka setiap hari bertambah kaya dan kaya". Aku langsung menambahkan dengan nada provokativ untuk membuka akalnya yang mulai sumbat ayat, "Ya bro, sama aku juga benci dengan orang arab diindonesia ini, mereka itu merajalela di neagara kita ini, mereka telah berkembang biak dan betambah banyak. Mereka berbisnis diindonesia, bisnis emas, bisnis sembako bahkan mereka menyebarkan agama islam diindonesia sampai kepelosok negeri". Timpalku dengan nada yang sengaja ditinggikan. Ia mulai kebingungan dan protes kepadaku, "loh kok kamu bawa-bawa arab sih? mereka itukan tujuannya suci menyebarkan agama islam walaupun mereka itu keturunan arab". "Lah, terus masalahnya dimana dengan orang cina, masak karena mereka bukan penganut agama Islam terus kamu semena-mena terhadap mereka, menuduh mereka bersikap tidak adil dengan kamu, bukankah saudarimu bekerja diperusahaan cina, bukankan Indonesia ini besar berkat campur tangan mereka juga, seperti saudara kita yang keturunan arab dan yang lainnya?" Tambahku dengan senyuman. Aku melihat ia mulai bingung, sambil mengajak ia ke dapur kubuatkan ia secangkir kopi dan mengambil bakpao dibawah tudung dan kuhidangkan untuknya "nih makan dulu sambil ngopi" kataku. Tanpa pikir panjang ia mengucapkan terimakasih sambil mencicipi bakpao dan menghirup kopi hitam yang kubuat. Aku pun bertanya kepadanya, "kamu tau gak asal usul Bahasa Indonesia?" Ia menggeleng tanda tidak tahu, aku menjelaskan kepadanya dengan sabar "Bro, bahasa Indonesia itu berasal dari bahasa melayu dan serapan dari berbagai bahasa asing yakni bahasa Arab, China, Belanda, Sansekerta dan banyak lagi, sehingga jadilah bahasa indonesia kita yang sekarang ini". Timpalku dengan mantap sambil ku buka laptop dan menunjukan kepadanya asal-usul bahasa Indonesia di situs Wikipedia.
Dengan wajah sedikit memerah dan malu ia mulai tersenyum dan berkata "oh, begitu ya bro. Ya sih bro, aku sih dengar dari ceramah ustadz di masjid, dia bilang kita tidak boleh kalah dengan cukong-cukong yang punya toko besar, jangan sampai jadi penjual tahu saja, katanya bro waktu ceramah".
"Coba kamu perhatikan kata-kata yang barusan kamu katakan tadi, kata (Masjid) itu bahasa arab, (Cukong dan tahu) itu bahsa cina", kataku mantap meyakinkannya.
"Oh begitu ya bro, waduh berarti selama ini aku pikir orang pribumi itu hanya kita ya bro, ternyata mereka juga pribumi" tambahnya sambil angguk-angguk kepala dan mulai mengerti. Ku suruh ia menghabiskan kopi dan bakpaonya supaya kami segera keluar karena kebetulan aku ingin mengajaknya jalan -jalan agar ia bisa mengerti bahwa RASIS itu adalah kanker dalam hati dan otak kita.
Selesai minum kopi dan makan bakpao, kami sambil berjalan keluar aku bertanya kepadanya, "Bagaimana bakpaonya, enak?", ia menjawab "enak sekali bro ada daging ayamnya, dimana kamu beli" tanyanya sambil melangkah dan menatapku, dengan tersenyum aku menjawab, " Dikasih ama teman namanya Mei mei tetanggaku oran cina". Sambil ku rangkul bahunya dan berkata "Saudara itu bukan hanya sedarah, tapi saudara itu adalah cinta dan kasih kepada sesama tanpa pandang SUKU, AGAMA dan RAS katakku sambil berjalan. Ku melihat senyum diwajahnya tanda otaknya mulai encer dan tidak sumbat oleh provokasi dan ISU SARA.