Showing posts with label Makar. Show all posts
Showing posts with label Makar. Show all posts

Saturday, April 22, 2017

TNI Bantah Demo Ahok Untuk Gulingkan Jokowi, Sementara POLRI Tangkap Pelaku Makar, Mana Yang Benar?

Wartawan investigasi Allan Nairn merilis sebuah artikel yang menyebut sejumlah perwira aktif dan purnawirawan TNI menggunakan demonstrasi anti-Ahok guna melengserkan Presiden Joko Widodo.
Artikel tersebut berjudul Trump's Indonesia allies in bed With ISIS-backed militia seeking to oust elected president dan dilansir situs The Intercept pada Rabu (19/04).
Namun TNI menepis tuduhan bahwa ada perwira aktif yang terlibat aksi pelengseran Presiden Jokowi.
Kepada BBC Indonesia, Nairn mengaku melakukan investigasi secara mendalam selama satu tahun.
Dalam kurun waktu itu, Nairn mengaku mewawancarai sejumlah sumber intelijen dan militer serta memperoleh berbagai dokumen rahasia terbitan TNI maupun badan intelijen Amerika Serikat (NSA) yang dibocorkan Edward Snowden.
"Di tentara, baik yang pensiun maupun masih aktif, ada banyak jenderal yang tidak puas dengan Jokowi dan takut kemungkinan bahwa di masa depan mereka bisa diadili. TNI ada sejarah panjang bunuh orang sipil, mulai dari 1965 sampai sekarang di Papua," kata Nairn dalam bahasa Indonesia, kepada Jerome Wirawan dari BBC Indonesia.
Kekhawatiran itu, menurut Nairn, mulai mengemuka saat pemerintah menggelar Simposium 1965 pada April 2016 yang menghadirkan sejumlah korban dan keluarga korban. Kesimpulan simposium itu adalah negara terlibat dalam peristiwa kekerasan terhadap orang-orang yang dituduh anggota atau simpatisan PKI pasca September 1965.
"Mulai dari saat simposium itu, muncul sebuah gerakan di dalam tentara. Mereka berpikir tentang kemungkinan menggulingkan Jokowi. Mereka marah dan takut atas kemungkinan (pengadilan) HAM. Dan gerakan di jalan sekarang, gerakan anti-Ahok itu, sebenarnya asalnya dari gerakan tentara," kata Nairn.
fpiHak atas fotomarkibong
Image captionDemonstrasi 411 pada 4 November 2016 berujung pada kericuhan. Wartawan investigasi Allan Nairn mengeluarkan laporan yang menyebutkan gerakan itu didukung militer.
DemonstrasiHak atas fotomarkibong
Image captionDemonstrasi anti-Ahok berlangsung beberapa kali di Jakarta sejak akhir 2016.

Sumber pendanaan

Dalam laporan itu Nairn mengaku mendapat dokumen intelijen dari tiga badan berbeda. Dokumen-dokumen itu, katanya, menyebut demonstrasi anti-Ahok memperoleh pendanaan dari seorang politikus, pengusaha, dan mantan presiden.
Nairn mengklaim telah berupaya memverifikasi dokumen itu dengan mewawancarai orang-orang yang disebut sebagai penyumbang dana, namun mereka menolak.
demoHak atas fotoMarkibong
Image captionSejumlah ormas menggelar demonstrasi menuntut Ahok dipenjarakan.
jakarta, makar, indonesia, 212Hak atas fotoMarkibong
Image captionKepolisian menyatakan sebanyak delapan orang diduga melakukan makar dengan berupaya menggiring para peserta doa bersama di kawasan Silang Monas, 2 Desember lalu, untuk menguasai gedung DPR/MPR.
Dengan bergeraknya demonstrasi anti-Ahok, kata Nairn, militer tidak terlihat kasat mata di jalan sehingga kudeta akan berlangsung melalui 'kekuatan rakyat' dan bukan dengan cara kekerasan. Aksi itu tak bisa diremehkan mengingat berhasil menggalang ratusan ribu hingga jutaan orang.
"Ini sama sekali bukan soal agama, ini politik," katanya.
Untuk meredamnya, sambung Nairn, Presiden Jokowi meminta bantuan sejumlah jenderal purnawirawan yang menurutnya pernah terlibat dalam berbagai peristiwa pelanggaran HAM.
"Namun, itu ada harganya, yaitu kemungkinan penghentian kasus-kasus pelanggaran HAM," kata Nairn.
Joko WidodoHak atas fotomarkibong
Image captionPresiden Joko Widodo memeriksa kesiapan pasukan Pasukan Khas di Bandung.
Dengan demikian, imbuhnya, walaupun demonstrasi anti-Ahok pada akhirnya bisa diredam, tentara tetap menang mengingat kasus-kasus pelanggaran HAM tak lagi diusik.
Menjawab pertanyaan BBC Indonesia, Nairn mengatakan bahwa laporannya "bisa dipertanggungjawabkan dan sudah diverifikasi". Kendati begitu, ada beberapa orang yang dituding dalam laporan itu yang menurutnya tidak mau memberikan komentar.
Adapun TNI menepis tuduhan bahwa ada perwira aktif yang terlibat aksi pelengseran Presiden Jokowi.
"Sampai hari ini tidak ada laporan makar," kata Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal Wuryanto kepada BBC Indonesia.
Soal penangkapan beberapa purnawirawan atas dugaan makar, Mayjen Wuryanto menegaskan "mereka dulu anggota TNI, tapi sekarang tidak ada hubungannya dengan TNI."
Dari pihak Presiden Joko Widodo, juru bicara kepresidenan Johan Budi menolak menanggapi.
JokowiHak atas fotomarkibong
Image captionPresiden Jokowi dan sejumlah menteri menuju lapangan Monas untuk bergabung bersama massa 212 dalam salat Jumat.
Allan Nairn adalah wartawan yang beberapa kali melansir laporan dari berbagai belahan dunia.
Pada era 1980-an, dia mengungkap pembunuhan massal di Guatemala yang disokong AS.
Dia menyaksikan langsung peristiwa di Santa Cruz, Timor-Timur 1991, yang mendorongnya menggalang sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berupaya meyakinkan Kongres AS untuk menekan pemerintahan Bill Clinton untuk memutus bantuan senjata ke Indonesia.
Pada tahun-tahun selanjutnya, Nairn merilis laporan tentang pembunuhan warga sipil di Aceh yang dilakukan TNI. Ia mengaku telah mewawancarai sejumlah jenderal purnawirawan senior mengenai keterlibatan mereka atas kasus-kasus pelanggaran HAM.
Sejumlah kritik menyebut, banyak laporan Nairn yang terlalu didasarkan pada ucapan-ucapan dan pengakuan yang tak bisa diverifikasi, yang dihubung-hubungkan.

Dituduh Makar, Ini Respon Gatot Panglima TNI


Jurnalis asal Amerika Serikat Allan Nairn menurunkan tulisan yang menyengat TNI. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo enggan menanggapi secara serius tulisan itu.

"Saya tidak akan menanggapi. Ya kan karena terlalu kecil untuk saya tanggapi itu," ujar Jenderal Gatot seusai acara Dharmasanti Nasional Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939 di GOR Ahmad Yani Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (22/4/2017).

Dalam tulisannya yang berjudul 'Trump's Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected President', Allan Nairn menyebut sejumlah pihak berniat menggulingkan Presiden Jokowi. Kasus Ahok, kata Nairn dalam tulisannya, hanyalah pintu masuk.

Nairn menyebut Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengetahui dan mendukung rencana tersebut. Namun TNI, juga Jenderal Gatot, hari ini menepis tudingan Nairn itu.

"Kalau hoax, ngapain harus tanggapi itu," ujar Gatot.

Tulisan Nairn itu kemudian diterjemahkan dan ditampilkan di situs berbahasa Indonesia, Tirto, dengan seizin Nairn. Kapuspen TNI Mayjen Wuryanto menyatakan TNI mempertimbangkan untuk melapor ke polisi. Namun Jenderal Gatot menegaskan laporan itu tak akan dilakukan.

"Itu kan kemungkinan gugatan. Tapi, kalau kecil kayak gitu, ngapain saya gugat itu," ujar Gatot.

Nairn sempat menanggapi niat TNI melaporkan dirinya dan Tirto. Alih-alih takut, Nairn malah menantang TNI.

"Dear TNI: If you want to threaten brave Indonesian reporters and publishers, please threaten me too. (TNI threatens legal action v tirto.id)," tulis Nairn di akun Twitternya, @AllanNairn14. 

Friday, April 7, 2017

Agenda Penggulingan Jokowi Oleh Al-Khataththath Setelah Pilkada 19 April, Simak...


Polda Metro Jaya menyatakan Sekretaris jenderal Forum Umat Islam (FUI), Muhammad Al Khaththath berencana menggulingkan Presiden Joko Widodo usai pencoblosan pemilihan kepala daerah Jakarta, 19 April nanti. 

Kepala Bidang Hubungan Permasyarakatan Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan, sejumlah rencana disiapkan sistematis untuk menggulingkan pemerintah. 

Salah satunya diawali demonstrasi pada 31 Maret 2017 atau dikenal dengan aksi 313, yang disebut sebagai gerakan pemanasan. 

"Ya tentunya untuk kegiatan tanggal 31 kemarin itu pemanasan saja, setelah itu kami dapatkan ada grand design setelah 19 April," kata Argo, Senin (3/4). 


Argo mengatakan rencana ini dibahas dalam pertemuan di Kalibata dan Menteng, Jakarta Selatan. Dia menyebutkan hasil pertemuan di dua lokasi itu terungkap rencana massa akan mengambilalih gedung MPR/DPR. 

"Di situ sampai terinci, masuk ke gedung DPR/MPR ada beberapa jalan yang dilewati. Ada juga caranya untuk menabrakan kendaraan truk di pagar belakang DPR. Ada juga tujuh pintu dari hasil rapat itu, gorong-gorong, jalan setapak," kata Argo. 

Selain itu, Argo mengungkapkan, penyidik tengah mendalami adanya aliran dana Rp3 miliar yang sebagai kebutuhan logistik peserta aksi 31 Maret 2017 yang bergerak menuju Senayan.

"Ada dana yang direncanakan, ada beberapa dana ditelusuri dan kemarin juga digunakan kegiatan unjuk rasa, ada yang digunakan untuk sewa bus, logistik semua ada di situ," kata dia. 

Selain Al Khaththath, polisi menangkap lima orang terkait dugaan pemufakatan jahat pada Jumat (31/3) dinihari.

Mereka adalah Zainudin Arsyad, Irwansrah, Veddrik Nugraha alias Dikho dan Marad Fachri Said alias Andre.

Para tersangka dikenakan Pasal 107 KUHP juncto Pasal 110 KUHP tentang pemufakatan makar, tersangka Veddrik dan Marad juga dijerat Pasal 16 UU Nomor 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis
.

Sunday, April 2, 2017

Bongkar...Tommy Ketakutan Hadiri panggilan Polisi Terkait Kasus Makar


Penyidik Polda Metro Jaya menjadwal ulang pemeriksaan putra bungsu Presiden kedua RI Soeharto, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, sebagai saksi kasus dugaan makar Firza Husein.
Keterangan Tommy diperlukan penyidik untuk mengetahui keterkaitannya dengan tersangka Firza Husein yang menjadi Ketua Solidaritas Sahabat Cendana (SSC).
"Kami ingin melihat apakah ada korelasi atau tidak berkaitan dengan apa yang disampaikan Firza dan yayasan Sahabat Cendana. Nanti akan didalami di situ," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes  Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (1/4/2017).
Argo mengakui, Firza Husein membantah ada kaitan Tommy Soeharto dengan yayasan SSC maupun dugaan makar yang disangkakan kepadanya. Oleh karena itu, keterangan Tommy Soeharto diperlukan penyidik untuk mengonfirmasi fakta sebenarnya.
"Makanya kami ingin mintai keterangan Tommy, apakah ada hubungan atau enggak," katanya.
Firza Husein merupakan satu dari 10 tokoh yang ditangkap petugas Polda Metro Jaya pada 2 Desember 2016 atau jelang aksi 212, karena dugaan terlibat rencana makar terhadap pemerintah.
Untuk melengkapi berkas penyidikannya, penyidik menjadwalkan pemeriksaan Tommy Soeharto sebagai saksi kasus makar untuk tersangka Firza Husein pada Jumat (31/3/2017) kemarin. Namun, pemeriksaan gagal dilaksanakan karena Tommy Soehartp tidak memenuhi panggilan.
Pihak penasihat hukum Tommy Soeharto menyatakan hal itu dikarenakan belum menerima surat panggilan pemeriksaan dari penyidik.
Namun, pihak polda menyatakan surat panggilan itu sudah diterima oleh pihak Tommy, karena ada tanda tangan penerimaan surat tersebut.
"Kami belum dapat alasan pastinya enggak datang karena apa. Untuk jadwal ulang pemeriksaan, nanti kami cek lagi agendanya kapan," sebut Argo. 
Mau racun tom?